Masih adanya temuan-temuan Pangan jajanan di Sekolah yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan manfaat seperti mengandung bahan kimia berbahaya, terkontaminasi bakteri karena kondisi higieni sanitasi yang buruk pada proses produksi maupun penyajian tentunya merugikan anak sekolah yang mengkonsumsinya. Untuk solusi persoalan ini Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Bandung menggandeng Kwartir Daerah Pramuka Jawa Barat dengan memasukan materi Keamanan Pangn sebagai bagian dari pengkaderan Pramuka.
Membahas persoalan tersebut pada hari Senin 22 Mei 2017 dilakukan rapat koordinasi dengan stakeholder terkait. Para peserta rapat menyambut baik dan memberi dukungan terhadap inovasi yang dilakukan kepala BBPOM di Bandung. Selain itu juga peserta memberi masukan yang bermanfaat untuk berhasilnya pemberdayaan komunitas Pramuka tersebut.
Sebagai langkah awal akan dilakukan TOT (training of trainer) bagi masing-masing 2 orang pelatih Pembina Pramuka dari 27 Kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat, selanjutnya para pelatih Pembina ini akan menjadi fasilitator Keamanan Pangan dan melatih Pembina Pramuka yang ada di Sekolah, dan para Pembina Pramuka ini akan memberi pelatihan kepada para peserta didik Pramuka yang ada di Sekolah. Para Pramuka yang telah dibekali pengetahuan Keamanan Pangan diharapkan berperan aktif dalam terwujudnya Keamanan Pangan yang baik di Sekolah. Kurikulum yang dikembangkan selain member perbekalan juga tentang bagaimana sikap para Pramuka ketika menemukan kondisi Keamanan Pangan yang buruk. Melaporkan kemana dll sebagainya.
Rapat dihadiri sekitar 40 orang peserta terdiri dari Kwarda Pramuka jabar, Kwarcab Pramuka Kota Bandung, Kedeputian 3 Badan POM, Dinas-dinas terkait, Kepolsian, Lembaga Swadaya Masyarakat terkait perlindungan anak serta dari Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia Regional 2.