Hari Terakhir Adalah Awal Kemandirian Masyarakat Desa Dalam Menerapkan Keamanan Pangan

21-10-2015 Bandung Dilihat 1608 kali

Tim Monitoring dan evaluasi terdiri dari petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Di Bandung, Mahasiswa, dan Koorlap Keamanan Pangan, yang di koordinasikan oleh Kepala Seksi Layanan Informasi Konsumen, Apep Temy, pada tanggal 15-21 Oktober 2015 melakukan monitoring dan evaluasi hasil pelaksanaan program Gerakan Keamanan Pangan Desa ( GKPD) terhadap 5 desa di wilayah Kabupaten Ciamis. Ini merupakan tahapan terakhir dari pelaksanaan kegiatan program Gerakan Keamanan Pangan Desa.  Kegiatan ini merupakan pengumpulan data dari responden, untuk  mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan  penerapan keamanan pangan di 5 Desa yang diukur dari pengetahuan, sikap dan perilaku dalam keseharian komunitas yang sudah dilatih oleh kadernya di masing-masing komunitas

 

Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan formulir GAP assessment berupa pengisian kuisioner  oleh responden yang sama dari masing-masing komunitas. Pengisian kuisioner dilakukan di Aula Desa/kelurahan masing-masing, dilanjutkan observasi ke responden komunitas PKK, ritel, IRTP, Guru dan PKL, untuk mengetahui perubahan perilaku praktik keamanan pangan. Bersamaan dengan pengisian kuisioner dilakukan pengambilan sampel produk pangan yang sama dengan kegiatan pengambilan sampel pada waktu GAP Assessment, untuk dilakukan pengujian secara cepat oleh  dua orang petugas laboratorium pangan BBPOM Di Bandung.

 

Hasil pengujian sampel produk pangan ( uji formalin, boraks, rodhamin B, methanyl yellow) dari 5 desa/kelurahan, menunjukan dari 82 sampel yang diuji, 4 sampel positif mengandung bahan berbahaya, yaitu produk Mei basah positif mengandung boraks dan formalin, kerupuk melarat dan kerupuk gendar positif rodhamin B dan boraks, kue basah dan terasi positif mengandung rodhamin B. Hasil pengisian kuisioner dan observasi dilapangan adanya peningkatan pengetahuan maupun perubahan perilaku tentang keamanan pangan, hal ini menunjukan bahwa praktik keamanan pangan di 5 desa/kelurahan tersebut sudah ada peningkatan perubahan yang signifikan.

 

Dalam diskusi mengenai program GKPD, aparat Desa/kelurahan maupun peserta menyambut baik dan antusias serta berterima kasih sudah terpilih menjadi salah satu desa/kelurahan yang mendapat bimbingan dan pengetahuan tentang keamanan pangan. Harapan disampaikan oleh peserta agar Tim Laboratorium Keliling dapat hadir secara rutin setiap tahun di desa-desa. Tim laboratorium keliling ini diharapkan juga secara terus menerus melakukan pemantauan PJAS serta berbagai makanan lainnya, bersinergi dengan kader keamanan pangan yang telah dibekali dan dilatih untuk menggunakan rapid test kit pengujian bahan berbahaya pada produk pangan.

 

Dalam kesempatan ini, Apep Temy menyampaikan dengan berakhirnya tahapan kegiatan program GKPD ini bukan berarti praktik keamanan pangan di masyarakat desa/kelurahan ini berhenti, tapi terus dilanjutkan, dari praktik keamanan pangan yang awalnya merasa terpaksa  bisa menjadi terbiasa bahkan menjadi budaya, sehingga hari terakhir ini menjadi awal kemandirian masyarakat desa/kelurahan dalam menerapkan praktik keamanan pangan untuk menuju desa PAMAN yang bisa dicontoh oleh desa/kelurahan lainnya.

Sarana