BPOM dan BBPOM di Bandung Melaksanakan Supervisi dan Monev Pendampingan UMK Pangan Olahan Program Sapa Kampus Berdampak Batch 8

23-06-2026 Umum Dilihat 195 kali

Dalam rangka peningkatan daya saing UMK, BPOM memberdayakan 3 (tiga) pilar keamanan pangan, yaitu Pemerintah, Industri/Pelaku Usaha, dan Masyarakat. Dari sisi pemerintah, perlu optimalisasi koordinasi dan sinergisme program terkait pendampingan UMK dengan Kementerian/Lembaga di tingkat Pusat dan antar organisasi perangkat daerah di tingkat daerah. Salah satu upaya yang dilakukan oleh BPOM kepada UMK yaitu melakukan pendampingan dalam rangka pemenuhan persyaratan keamanan pangan untuk memperoleh Nomor Izin Edar.

Terkait pemberdayaan masyarakat/komunitas masyarakat dalam meningkatkan daya saing UMKM dapat terwujud melalui pembentukan Fasilitator Keamanan Pangan yang akan mendampingi UMK pangan olahan dalam pemenuhan persyaratan keamanan pangan. Komunitas Pendidikan dalam hal ini civitas akademika di Perguruan Tinggi, khususnya mahasiswa, merupakan komunitas intelektual dan bagian dari masyarakat yang diharapkan kontribusi aktifnya dalam menjaga keamanan pangan. Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan salah satu terobosan dalam menyiapkan mahasiswa menjadi manusia yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin dengan semangat kebangsaan yang tinggi. Melalui program ini, mahasiswa diberikan kesempatan luas untuk memperkaya dan meningkatkan wawasan serta kompetensinya di dunia nyata. BPOM menyambut baik kebijakan tersebut dan bermaksud melakukan program sinergi untuk meningkatkan partisipasi dan kompetensi mahasiswa di bidang keamanan pangan sekaligus memberikan pendampingan kepada UMK Pangan Olahan untuk dapat memperoleh izin edar yang diterbitkan oleh BPOM.

Sebagai keberlanjutan Program MBKM, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan Program Kampus Berdampak. Selanjutnya BPOM telah melakukan transformasi Program Pangan Aman Goes to Campus menjadi SAPA KAMPUS Berdampak yang bekerja sama dengan Perguruan Tinggi untuk mencetak SDM Kompeten sekaligus berperan sebagai Fasilitator Keamanan Pangan untuk pendampingan UMKM. Mahasiswa terpilih akan diberikan Pelatihan Berbasis Kompetensi yang sesuai dengan SKKNI Bidang Keamanan Pangan untuk Penyuluh Keamanan Pangan (PKP) Pertama. Selanjutnya mahasiswa yang sudah dilatih menjadi PKP Pertama akan diberikan pembekalan teknis pendampingan UMKM dan magang di UMK Pangan Olahan.

Pada hari Senin tanggal 25 Mei 2026 bertempat di Aula Kantor BBPOM di Bandung telah dilaksanakan kegiatan Supervisi dan Monitoring Evaluasi Program SAPA KAMPUS Berdampak Batch 8. Acara dibuka oleh Mentor Supervisor dari Direktorat PMPUPO Badan POM,  Devi Riani  dan dihadiri oleh mentor Badan POM, mentor BBPOM di Bandung dan mahasiswa peserta Program Sapa Kampus Berdampak Batch 8 dari 6  Perguruan Tinggi yaitu Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Pasundan, Universitas Singaperbangsa Karawang dan Universitas Ma’soem.  Agenda kegiatan berupa pemaparan dari mahasiswa terkait progress kegiatan fasilitasi yang dilakukan di UMK magang dalam penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) yang telah dilakukan sejak bulan April 2026.

Dalam sambutannya Devi Riani selaku Mentor Supervisor dari BPOM menyampaikan apresiasi atas komitmen mahasiswa dan para mentor yang telah berkolaborasi dalam mendampingi pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) pangan olahan. Beliau juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mendukung peningkatan mutu dan keamanan pangan melalui program pendampingan yang berkelanjutan.

Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 26 Mei 2026, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke dua UMK pangan olahan yang mendapatkan fasilitasi pendampingan dari mahasiswa, yaitu UMK Ayam Edol dan UMK Laxmi. Kunjungan ini bertujuan uuntuk memastikan mahasiswa telah melaksanakan pendampingan sesuai dengan standar yang ditetapkan dan untuk meningkatkan kualitas pendampingan. 

.Melalui kunjungan tersebut, para mentor dan mahasiswa dapat mengamati secara langsung kondisi sarana produksi, penerapan higiene dan sanitasi, serta kesiapan UMK dalam memenuhi standar CPPOB. Selain menjadi sarana evaluasi, kegiatan ini juga menjadi wadah diskusi antara mahasiswa, mentor, dan pelaku usaha dalam mencari solusi atas berbagai kendala yang masih dihadapi selama proses perbaikan.

Kegiatan Supervisi dan Monev Program SAPA KAMPUS Berdampak Batch 8 berlangsung dengan penuh antusiasme dan semangat kolaborasi. Sinergi antara BPOM, BBPOM Bandung, perguruan tinggi, dan pelaku UMK diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produk pangan olahan lokal.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di lapangan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam mendukung UMK untuk memenuhi standar keamanan pangan. Besar harapan agar kolaborasi yang terjalin dapat terus berlanjut dan semakin banyak UMK pangan yang mampu menerapkan CPPOB secara optimal sehingga menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan berdaya saing.

Bunga melati tumbuh di taman,
Harum semerbak sepanjang jalan.
SAPA KAMPUS Berdampak hadir memberi peran,
Untuk UMK pangan yang lebih aman.

(FN)

Sarana